Sang Tebal Muka Berpredikat Tak Tahu Malu Dan Tak Tahu Terima kasih

(illustrasi)

Sebenarnya Tidak Baik Menulis Opini disaat hati ini panas dan sedikit agak emosi. Tapi bila tidak ku mulai, saya khawatir kalau isi hati yang tersimpan ini akan menjadi penyakit dalam tubuhku. 
Bila mengingat hasil diasapi atau dimasak dengan lombok mentah bercampur lemaknya maka tidak tertutup kemungkinan akan memacu nafsu makan kita yang selama ini hanya sebatas mendengar dan mengetahui saja dari orang lain atau media. Namun bila kemudian menilik kalimat yang kupasang sebagai judul maka, akan tergambar sangat jelas bahwa sayalah sebenarnya yang terkena dari arti kalimat judul tulisan ini. Coba saja analisa dirimu disaat kamu sendiri, dan tanyalah hatimu, apakah sebenarnya saya ini termasuk dari kalimat yang menjadi judul diatas ?”
Bila kemudian kamu masih merasakan kebenaran dari apa yang tertuang dalam rangkaian kalimat yang berbentuk artikel namun bukan sebenarnya artikel melainkan sebuah kalimat semau hatiku.
Sebenarnya kamu itu, janganlah seperti itu, karena kamu itu lahir dari keluarga yang sangat beretika dan sangat sabar serta sopan. Bayangkan saja ketika langkah dari bekas tapak kakimu saja sudah mendapat teriaka orang lain diluar dirimu, kalaupun kemudian teriakan itu tak terdengar karena mereka yang berteriak itu tidak mau mengikuti langkah dan tapak mu. Kenapa mereka tak mau mengikuti tapak mu ? 
Jawabnya adalah, mereka tahu diri, dan tahu berterima kasih atas tapak orang orang yang telah menjadi sebuah titian hidup hingga akhirnya menjadi sebuah  kalimat saya telah berutang budi atas kehidupan dan nafas selama ini. Dan semuanya adalah reseki ku yang hanya lewat di tanganmu. Dan perlu kamu tahu bahwa ketengan jiwa dari orang lain selain dirimu sangat terjamin dan mereka tidak pernah menyombongkan diri atas apa yang telah dimilikinya. bagaimana dengan kamu ? Apakah kamu juga bisa seperti itu ?
Bila jawabanmu adalah sama dengan jawabku, maka saatnya sekarang hentikan semua hal yang telah menjadikanmu murtaddari apa yang sebenarnya telah menjadi penggarisan dalam dirimu dari sang Khalik. 
Semoga jalanmu masih panjang, dan hentikanlah menggunakan ke tiga jarimu menjadi penunjuk kepada orang lain kepadamu bahwa apa yang telah kamu jadikan kebanggaan tersebut ternyata disebut oleh orang lain di Indonesia ini bohong. 
Ok. Sepakat untuk selalu membiarkanmu berbohong. Semoga kamu menjadi bahan tontonanku disaat sepi dan hiburanku disaat sedih di suatu tempat di surrga yang bisa melihat lapangan penyiksaan di neraka dimana kamu disiksa karena duniamu.

Tentang MC-I Selayar

Medianya Orang Selayar
Pos ini dipublikasikan di Forum Peduli Selayar. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sang Tebal Muka Berpredikat Tak Tahu Malu Dan Tak Tahu Terima kasih

  1. Aribian berkata:

    PESAN HIDUP yg menyentuh. mantap!!!c

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s