Putri Selayar Jadi Srikandi Takraw Indonesia

Srikandi Takraw Indonesia

KORPS Kepolisian kerap menghadapi sorotan tajam masyarakat terutama kasus di pentas nasional. Namun tak banyak yang tahu korps baju coklat itu juga banyak menyimpan prestasi, setidaknya dari personilnya di luar tugas pokok.

Mari kita milihat sosok lain dari seorang polisi yaitu Brigadir Satu (Briptu) Nur Qadriyanti.  Mungkin dia”asing” di jajaran kepolisian Polda Sulselbar. Namun, nama itu cukup dikenal di kalangan atlet cabang olahraga sepak takraw di Indonesia.

Qadri memang termasuk atlet nasional yang sering mengharumkan nama kota, daerah, bahkan bangsa. Ya, selain berprofesi sebagai anggota polisi, Qadri adalah seorang atlet. Dia merupakan salah seorang atlet nasional hingga saat ini.

Spesialisasinya di cabang cabang takraw adalah di kategori putri. Berkat prestasinya dia kini masuk menjadi bagian dari skuad Pelatihan Nasional (Pelatnas) untuk persiapan SEA Games 2011.  Dia merupakan andalan Indonesia mempersembahkan medali emas.

Wanita kelahiran Selayar 25 Mei 1986 ini telah meraih medali diberbagai even internasional. Jauh sebelum menjadi polisi dia sudah menjadi bagian dari skuad merah putih. Prestasinya tetap terjaga saat menjadi bagian dari korps baju coklat Kepolisian Republik Indonesia.

“Saya bangga mendapat pekerjaan ini sebagai polisi. Awalnya saya berpikir karier atlet bakal tamat. Ternyata malah mendukung prestasi saya. Setiap waktu selalu diberi konpensasi untuk latihan dan menjaga kebugaran dengan latihan rutin,” kata Qadri.

Adik kandung dari petakraw nasional M Nasrum Pasbah ini mengatakan, pekerjaan sebagai anggota Polri yang menimpanya kian disiplin. Baik saat berlatih, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Tak salah saat pertama kali masuk di Polri tahun 2005, tahun-tahun berikutnya prestasi nya kian melejit. Dia sudah bisa tembus tournament setingkat Asia saat masih berusia 21 tahun.

Hampir semua kejuaraan dunia telah dilalui Qadri, kecuali Olimpiade karena memang cabang takraw tak dipertandingkan di Olimpiade. Salah satu paling berkesan, yakni tahun 2010 lalu di Asian Games Goangzhau China berhasil meraih perunggu.

“Meski hanya peringkat ketiga sangat lebih dari cukup mengingat even tersebut diikuti atlet kelas dunia. Itu pengalaman yang tak akan terlupakan. Kami bersaing dengan atlet dunia lainnya,” ungkap polisi yang sehari-hari bertugas di Biro SDM Polda Sulselbar itu.

 Puluhan medali dan trofi dipajang rapi di rumahnya, di Jalan Peurmahan Andi Tonro Sugguminasa Gowa. ”Ini belum semua. Beberapa medali saya simpan di dalam kamar,” ujarnya.

Qadri menceritakan, medali-medali itulah yang menjadi penyemangat hidupnya hingga saat ini. Setiap kali melihat medali itu, semangatnya untuk terus berlatih dan memenangkan lomba lari selalu kembali. ”Medali kakan juga sering menjadi sumber motivasi saya. Apalagi kami tingal bersama dan sama-sama jauh dari orangtua. Kami tinggal di Makassar dan mereka menetap di Selayar,” ungkapnya.

Bakat Qadri di olahraga sepak takraw mulai tampak saat masih duduk di SDN Centre Benteng Selayar. Dia sudah mahir memainkan bola dari kulit rotan itu bersama rekan-rekannya.. Hingga pada 1991,  Qadri mewakili sekolah dalam Porseni SD. ”Itu pertama saya main takraw,” kenangnya.

Dari situlah, bakat lari Qadri mulai tersalur. Lanjut sekolah di Makassar masuk SMP 14 Makassar yang memang konsentrasi di cabang olahraga membuat dia kian akrap dengan takraw.  ”Awalnya kakak orang pertama yang menawari saya ikut latihan. Keinginan menggeluti dengan serius olahraga itu sebenarnya ditentang orang tuanya. Tapi kakak ternyata bisa menunjukkan prestasi, Kami bukan dari keluarga petakraw. Semua jadi beguti saja,” ungkapnya.

Qadri mengatakan sangat beruntung bisa menjadi atlet cabang takraw. Sebab, dari olahraga itu, dia bisa masuk dan mengabdi sebagai anggota polisi. Dia tercatat sebagai anggota Polri pada 2005 setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN). Bersama 20 atlet pelatnas lain, dia menjadi polisi melalui jalur prestasi tanpa tes.

Darah polisi mengalir dari ayahnya yang juga adalah seorang polisi Bripka Bakkarang Kadir, Anggota Polres Kabupaten Selayar.

“Yang menawari saya masuk polisi bapak. Saya mau saja dan sekali tes langsung lolos,” katanya. Begitu jadi polisi, Qadri langsung bertugas di staf bagian kesehatan SDM Polda Sulselbar.

Usia Qadri masih muda.  Perjalanan kariernya sebagai atlet pun masih panjang. Makanya dia berharap tetap diberi ruang untuk berlatih agar bisa mempersembahkan prestasi untuk daerah dan bangsanya.”Tapi, untuk PON Riau nanti, saya sudah tidak bisa ikut puslatda. Itu karena ada pembatasan usia di PON yakni 25 tahun,” ujarnya. (rasyid@fajar.co.id)

Iklan

Tentang MC-I Selayar

Medianya Orang Selayar
Pos ini dipublikasikan di selayarterkini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s